
ECOTON bersama WANALA Universitas Airlangga menggelar edukasi lingkungan, diskusi, serta praktik pengujian kualitas air dan identifikasi mikroplastik di Kali Tebu, Surabaya. Kegiatan diikuti 15 peserta dari kalangan mahasiswa, Sabtu 23/5/2026.
Agenda dimulai pemaparan mengenai ancaman mikroplastik terhadap kesehatan manusia dan ekosistem perairan. Peserta kemudian turun langsung mengambil sampel air sungai sebanyak 20 liter untuk diuji kandungan mikroplastiknya.
Koordinator Kegiatan Karsa Lestari Bawean WANALA Unair, Bima Ardhia Vardhan mengatakan, kegiatan ini untuk memberi pengalaman riset praktis, bagi mahasiswa agar memahami kualitas air dan pencemaran mikroplastik.
“Tujuan kegiatan agar kami memiliki ilmu praktis untuk meneliti kualitas air, sehingga bisa direplikasi kegiatan dengan menguni kualitas air di Pulau Bawean, “ ujar Bima
Bima ingin melihat apakah kualitas air di Pulau Bawean memiliki hubungan dengan pola hidup masyarakat di wilayah setempat , lalu membandingkannya dengan temuan di Surabaya.
Banyak mahasiswa belum belum memahami secara serius dampak mikroplastik. Ternyata apa yang dilakukan mahasiswa yang menjadi kebiasaan sehari-hari, justru ikut berkontribusi pada pelepasan mikroplastik ke lingkungan.
Bahkan, perilaku kecil seperti mencuci pakaian dapat menghasilkan mikroplastik yang berpotensi merusak sistem hormon manusia.
“Karena itu, tujuan utama kami ingin mensosialisasikan konsep 3R, terutama pengurangan penggunaan plastik sekali pakai sejak awal,” ujarnya.
Dari hasil identifikasi yang mereka lakukan, memperlihatkan 47 partikel mikroplastik ditemukan dalam sampel air dari Kali Tebu. Temuan itu terdiri atas 40 fiber, 6 filamen, dan 1 fragmen. Fiber menjadi jenis paling dominan dan diduga berasal dari limbah domestik, terutama serat pakaian sintetis, yang lepas saat proses pencucian lalu terbawa ke badan sungai.
Selain identifikasi mikroplastik, tim juga melakukan pengujian parameter kualitas air guna melihat tingkat pencemaran di sungai.
Hasil pengukuran menunjukkan kadar Dissolved Oxygen (DO) hanya 0,2 mg/L. Angka itu jauh di bawah baku mutu air kelas III sebesar 3 mg/L. Kondisi itu menunjukkan kandungan oksigen terlarut di sungai sangat rendah, sehingga berisiko mengganggu kelangsungan hidup organisme perairan.
Parameter lain juga memperlihatkan kondisi air yang mengkhawatirkan. Kadar fosfat tercatat 5,7 mg/L atau melampaui baku mutu 1,0 mg/L. Sementara amonia mencapai 1,82 mg/L, lebih tinggi dari ambang batas 0,5 mg/L.
Pengukuran lain mencatat total dissolved solids (TDS) sebesar 510 mg/L, pH 7,03, suhu air 29,3 derajat Celsius, serta klorin bebas 0 mg/L.
Kegiatan di Kali Tebu juga diarahkan sebagai upaya memperkuat edukasi lingkungan di kalangan mahasiswa. Riset serupa direncanakan berlangsung bertahap hingga tahun depan, termasuk pengembangan studi kualitas air di Pulau Bawean.
“Kesadaran masyarakat masih kurang dan belum terintegrasi. Kita harus mulai memilih kemasan yang lebih ramah lingkungan dan membiasakan gaya hidup guna ulang, seperti membawa tempat makan sendiri. Produksi sampah kita sangat tinggi, sehingga perubahan perilaku menjadi langkah penting,” jelas Bima.
Temuan mikroplastik dan kualitas air yang rendah di Kali Tebu memperlihatkan tekanan serius terhadap ekosistem sungai perkotaan.
Melalui edukasi dan praktik lapangan, ECOTON dan WANALA Unair mendorong keterlibatan generasi muda dalam riset lingkungan sekaligus kampanye pengurangan plastik sekali pakai untuk menekan pencemaran sungai dan risiko kesehatan masyarakat. (pul)