
Pemerintah Kota Surabaya mulai mematangkan rencana pembangunan rumah susun sederhana milik atau rusunami yang menyasar generasi Z. Program ini diposisikan sebagai jawaban atas makin mahalnya harga hunian di kota besar, terutama bagi pasangan muda yang baru menikah dan belum memiliki rumah sendiri. Dalam beberapa hari terakhir, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi bahkan beberapa kali membeberkan arah kebijakan, spesifikasi unit, hingga kisaran harga yang dibidik agar tetap terjangkau bagi warga Surabaya.
Gagasan rusun Gen Z ini tidak lahir tiba-tiba. Pada Senin, 30 Maret 2026, Pemkot Surabaya bersama DPRD lebih dulu mengesahkan Peraturan Daerah tentang Hunian yang Layak. Dalam momentum itu, Eri menegaskan bahwa rusunami disiapkan sebagai alternatif hunian bagi pasangan muda atau Gen Z, berbeda dari rusunawa yang berbasis sewa karena rusunami membuka skema kepemilikan. “Kita ingin anak-anak muda yang baru menikah sudah bisa memiliki hunian sendiri,” kata Eri usai rapat paripurna, 30 Maret 2026. Pada tahap awal saat itu, pemkot menyebut kawasan Tambakwedi dan Sememi sebagai titik yang direncanakan untuk pembangunan.
Dua hari berselang, arah program itu tampil makin konkret. Dalam keterangan resmi Pemkot Surabaya yang terbit Kamis, 2 April 2026, Eri menyebut rusunami tersebut disiapkan untuk Gen Z yang baru menikah, terutama warga Surabaya yang membutuhkan rumah pertama dengan harga lebih masuk akal dibanding apartemen komersial. “Kita membuatkan rusunami untuk Gen Z yang baru menikah,” ujar Eri dalam pernyataan yang disampaikan Rabu, 1 April 2026. Saat itu, Pemkot menyebut dua lokasi awal yang sedang dipersiapkan, yakni Tambak Wedi dan Rungkut.
Bukan hanya lokasi, Pemkot juga mulai membocorkan wajah hunian yang ingin dibangun. Eri menjelaskan bahwa rusunami ini tidak dirancang seperti rumah susun lama yang identik dengan satu kamar. Justru, unit yang sedang disiapkan akan memiliki dua kamar tidur agar tetap layak bagi pasangan muda yang mulai membangun keluarga. Dalam pernyataannya, Eri menegaskan konsep itu dipilih supaya penghuni tetap nyaman ketika sudah memiliki anak. Pada saat bersamaan, Pemkot juga menyiapkan fasilitas lift, sehingga hunian vertikal ini diarahkan memiliki standar kenyamanan yang lebih dekat ke apartemen, tetapi dengan harga yang jauh lebih terjangkau.
Soal harga, inilah bagian yang paling menyita perhatian publik. Pada 2 April 2026, Eri mengatakan kisaran harga rusunami tersebut ditargetkan di bawah Rp500 juta, bahkan ada simulasi harga yang masih dihitung di rentang Rp100 juta hingga Rp200 juta. Sehari-hari, angka itu terdengar jauh lebih realistis bagi anak muda Surabaya dibandingkan harga rumah tapak di wilayah perkotaan yang terus naik. “Harganya insyaallah di bawah Rp500 juta. Ada yang Rp100 juta, ada yang Rp200 juta, dan ini masih kita hitung,” kata Eri. Keterangan serupa kembali muncul dalam pemberitaan 6 April 2026, menandakan bahwa skema harga murah tetap menjadi inti dari narasi besar program ini.
Perkembangan terbaru muncul pada Senin, 6 April 2026. Dalam rilis resmi terbaru, Pemkot Surabaya menyebut rencana lokasi rusunami Gen Z bertambah menjadi tiga titik, yakni Tambak Wedi, Rungkut, dan Ngagel. Di sini terlihat bahwa desain kebijakan masih terus dimatangkan. Pada fase terbaru itu, Eri menekankan bahwa rusunami bukan semata proyek fisik, melainkan bagian dari kesinambungan intervensi sosial Pemkot setelah program pendidikan dan mobilitas sosial. “Kami ingin memastikan generasi muda tidak hanya memiliki tempat tinggal, tetapi juga hunian yang layak dan mendukung kualitas hidup keluarga,” kata Eri, 6 April 2026.
Pemkot juga mulai menggambarkan skema yang membuat harga itu bisa ditekan. Dalam keterangan 6 April 2026, Pemkot menyebut pembangunan akan memanfaatkan aset lahan milik pemerintah kota, dengan skema hak guna bangunan di atas hak pengelolaan lahan. Selain itu, pembiayaan disebut akan dibuka melalui kerja sama dengan perbankan, termasuk kemungkinan bunga ringan dan tenor panjang. Artinya, proyek ini tidak sekadar menjual mimpi kepemilikan rumah, tetapi sedang dirancang agar benar-benar dapat diakses oleh warga dengan pendapatan setara upah minimum.
Yang menarik, rusun Gen Z ini juga dibingkai sebagai tahap lanjutan dari mobilitas sosial warga Surabaya. Pemkot membedakan secara tegas antara rusunawa untuk keluarga miskin dengan sistem sewa dan rusunami untuk warga yang mulai mandiri secara ekonomi dan siap memiliki hunian sendiri. Dalam skema itu, warga yang ekonominya membaik didorong naik kelas dari rusunawa ke rusunami, sehingga unit sewa tetap bisa dipakai masyarakat lain yang lebih membutuhkan. Narasi ini penting, sebab persoalan hunian vertikal di Surabaya memang bukan masalah kecil. Pada data Pemkot yang dipublikasikan 26 September 2023, antrean permohonan rusunawa bahkan mencapai 10.776 keluarga, sementara unit yang sudah dibangun Pemkot baru 5.233 unit di 23 rusunawa.
Karena itu, rusun Gen Z bukan hanya soal gedung baru, tetapi juga tentang bagaimana Pemkot Surabaya sedang mencoba mengubah cara pandang terhadap perumahan rakyat. Bila selama ini rumah susun identik dengan hunian sementara dan kelompok rentan, kini Pemkot ingin menjadikannya sebagai jalur kepemilikan rumah pertama bagi anak muda kota. Tantangannya tentu belum kecil: lokasi masih bergerak, hitungan harga masih dimatangkan, dan syarat calon pembeli akan diverifikasi ketat agar tepat sasaran. Namun di tengah lahan kota yang kian sempit dan harga properti yang makin menjauh dari jangkauan generasi muda, ide rusun Gen Z ini sudah terlanjur menjadi salah satu janji kebijakan paling menarik di Surabaya awal April 2026. (yes)