
Pasca peristiwa 1 Oktober kelompok Letkol Untung dan Syam Kamaruzzaman, Ketua Biro Khusus PKI memilih kabur meninggalkan Jakarta. Kawasan lubang buaya dan halim perdana kusuma yang disiapkan sebagai markas komando gerakan, ditinggalkan begitu saja. Langkah Umar Wirahadi Kusuma menenangkan kondisi Jakarta membuat kelompok ini ketakutan. Apalagi desakan untuk pembubaran PKI dan ancaman hukum yang menunggu, membuat letkol Untung memilih kabur ke arah Semarang.
Perhitungan Untung lagi-lagi tidak semujur namanya. Kisah tertangkapnya Letkol Untung yang dikenal sangat ganas ternyata bernyali ciut menjadi bahan ketawaan warga Tegal. Saat itu tanggal 11 Oktober 196, sang Pimpinan Gerakan Letkol Untung sudah berusaha melarikan diri dan berpindah tempat tanpa tujuan, untuk menghindari kejaran Aparat. Saat itu sedang menuju arah Semarang menumpang kendaraan Bus. Di dalam Bus terdapat dua anggota tentara yang kebetulan sama-sama sedang menumpang bus. Dua TNI ini sebenarnya hanya memperhatikan pemuda lusuh yang tampak gelisah. Namun saat melihat dirinya sedang diperhatikan, sang buronan justru gusar dan berusaha menghindar. Perhitungan Untung dengan melompat keluar bus semakin menambah kecurigaan kedua tentara tersebut. Untung akhirnya dikejar ramai-ramai.
Setiba di jalan Kemandungan, Untung yang sudah kelelahan dan pusing kepala karena menabrak tiang listrik, memilih masuk kampung Kripikan. Karena merasa banyak orang yang memperhatikan, maka Untung masuk ke salah satu rumah warga dan bersembunyi di bawah tempat tidur. Pemilik rumah seorang nenek, merasa ada pencuri yang masuk rumahnya langsung berteriak minta tolong. Penduduk sekitar berdatangan termasuk Tarmo seorang Hansip di kampung. Tarno dengan percaya diri menyeret orang yang mencurigakan tersebut dari kolong tempat tidur. Karena merasa bersalah dan seolah-olah sudah kalah, sang buronan mengikuti perintah Tarmo.
“Ayo keluar, atau sampeyan pilih mati dihajar massa,” perintah Hansip Tarmo
Menurut Salim Aziz saksi warga, sang buronan saat itu benar-benar sudah loyo, mengikuti perintah Hansip Tarmo. Tampak dihadapaan warga yang mengepung seorang pria setengah baya dengan tubuh lusuh.
“Lalu hansip Tarmo membawa sang buronan ke Polresta dengan dibonceng sepeda. Saat itu penduduk Kripikan hanya mengenalnya sebagai maling biasa, yang tidak jelas apa yang dicuri dan siapa korbannya,” cerita Salim Aziz seperti yang dikutip infotegal.com
Setiba di kantor polisi, Untung sebenanya hanya dianggap sebagai maling biasa, sekalipun saat intrograsi sudah mengaku bernama Untung. Rupanya petugas polisi juga belum yakin tentang pengakuan nama tersebut, sebab masih sibuk menelusuri kronologi penangkapan dan motif pelaku. Namun tiba-tiba muncul radiogram dari Kepolisian Pusat mengenai pelarian Untung Komamdan Cakrabirawa ke arah Jateng. Saat itu juga komandan Polresta Tegal menjadi curiga. Segera maling Untung diperiksa lagi secara mendetail. Akhirnya dihadapan polisi, sang buronan tersebut mengaku memang dirinya adalah Untung Komandan Tjakrabirawan.
Saat itu pula Polresta tegal geger. Kantor Kodim dan CPM yang diberi kabar penangkapan Untung juga ikut gempar. Segera Pangdam VII Diponegoro dikabari. Kantor Polresta yang sebelumnya sepi menjadi ramai warga yang penasaran. Jalan utama kota Tegal juga ditutup untuk menghindari massa yang ingin melihat sang buronan.
Sore itu juga Letkol Untung diboyong ke CPM untuk diserahkan ke Pangdam pada malam hari. Setelah itu buroan berbahaya itu dibawa diserahkan ke Kodam Siliwangi di perbatasan Jawa Barat. Pemindahan dilakukan secara rahasia dengan gonta-ganti mobil tahanan.
Letkol Untung sempat diberi makan oleh Kapten Isa kemandan CPM Tegal.
Penangkapan ini sebenarnya akibat ketakutannya Letkol Untung yang melihat 2 anggota TNI. Andaikata Untung pintar bermain peran, denganpura-pur a tidak terjadi apapun, mungkin 2 anggota TNI ini tidak curiga. Sebab saat itu wajah sang Letkol tidak banyak dikenal, hanya namanya yang membahana sebagai tokoh pimpinan gerakan 30 September.
Kisah Untung yang sering salah berhitung juga selalu dikenang mantan rekannya dalam Operasi Trikora, Alex W. Korompis. Alex merupakan sukarelawan berpangkat kapten pernah memaparkan sisi lain Untung dalam sebuah wawancara yang dimuat Kompas 28 Desember 1965. Menurut Alex, Untung yang dia kenal pribadi yang ambisius. Bahkan Untung sempat menolak terjun dari pesawat ke Irian Barat sebelum mengenakan tanda pangkat mayor.
Alhasil, seorang mayor yang juga berada di pesawat terpaksa melepas tanda pangkatnya buat diberikan kepada Untung. Alex juga menyebut Untung sebagai seorang atheis yang bersikap eksklusif dan tidak senang bergaul.
Untung, kata dia, sempat melarang anak buahnya membeli radio transistor ketika berada di tengah operasi militer itu. Namun, kata Alex, diam-diam Untung membawa pulang lebih dari 1 buat radio yang disebut diperoleh dari hasil memeras etnis Tionghoa.
Selain itu, kata Alex, Untung dikenal berkepribadian kejam. Dia menceritakan, Untung pernah meninggalkan anak buahnya di tengah hutan yang kesulitan berjalan karena kakinya terkilir. “Saat itu rekan-rekan prajurit sudah bersedia membawa rekan mereka. Namun, Untung menolak usulan itu. Lebih baik mati satu orang, daripada menyulitkan semua anggota kesatuan,” kata Alex menirukan perkataan Untung.
Akan tetapi, salah satu hal terpuji dari Untung adalah dia bersikap menghormati perempuan. Menurut Alex, pada suatu waktu Untung jatuh hati dengan seorang perempuan asal Magelang. Namun, hubungan asmara itu kandas. Untung kemudian lebih memilik mencurahkan isi hati dan pikirannya dengan menulis melalui buku harian.
Namun negara juga pernah memberi sebuah penghargaan besar atas jasa Untung. Sebab pernah berjasa dalam operasi pembebasan Irian Barat (kini Papua) atau Operasi Trikora. Untung pernah menerima Bintang Sakti, tanda penghormatan kepada atas keberanian dan ketabahan tekad soserang prajurit dalam operasi militer dan mendapat kenaikan pangkat istimewa dari mayor menjadi letkol. Sejak saat itulah, Letkol Untung menjadi dekan dalam ring 1 istana sebagai pengawal presiden
Gebrakan Letkol Untung yang tidak beruntung berhasil berhasil dipatahkan oleh TNI Angkatan Darat. Untung dan sejumlah anak buahnya kemudian ditangkap. Majelis Mahkamah Militer Luar Biasa menjatuhkan hukuman mati kepada Untung. Untung sempat mengajukan grasi tetapi ditolak. Sang perwira kemudian menemui ajal di hadapan regu tembak di Cimahi satu tahun kemudian pada tahun 1966. (pul)