
Panas mulai terasa ketika tim ronda sungai menyusuri kawasan industri di DAS Brantas, Selasa, 9 Juni 2026. Pukul 10.26 WIB, rombongan yang dikoordinatori Posko Ijo tiba di outlet fall limbah PT Mega Surya Eratama di Dusun Jasem, Desa Tanjangrono, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto.
Di sepanjang jalan setapak menuju titik pembuangan, suara mesin pabrik terdengar bersahutan tanpa jeda dari kawasan industri sekitar. Seorang warga yang ditemui di dekat permukiman lebih dulu memberi isyarat mengenai kondisi sungai sambil memperhatikan rombongan yang membawa poster, jirigen dua liter untuk wadah sampel air, serta alat pengukur kualitas air.
“Mau kemana mas?” tanya warga itu.
“Ke sungai Pak,” jawab salah satu anggota tim.
“Monggo, bagaimana itu kalinya keruh,” ujarnya.
Ucapan singkat tersebut menjadi penanda awal situasi yang kemudian ditemukan di lokasi. Semakin dekat menuju titik outlet, aroma menyengat mulai tercium dari arah saluran industri yang mengarah ke badan sungai.
Di lokasi pembuangan, aliran limbah terlihat mengalir langsung menuju Kali Porong. Air di sekitar outlet tampak berbeda dibanding aliran utama sungai, berbusa, serta meninggalkan endapan lumpur bercampur residu menyerupai sludge kertas di sela sedimentasi bantaran.
Beberapa bagian tepian sungai terlihat tertutup material berwarna kecokelatan pucat. Pada titik tertentu, permukaan air bergerak lambat sambil membawa potongan serat halus yang mengendap di pinggir saluran.
Dari pengamatan visual di lokasi, diameter pipa pembuangan diperkirakan berada pada kisaran 50 hingga 60 sentimeter. Ukuran tersebut setara dengan sekitar 20 hingga 24 inci.
Perkiraan paling mendekati mengarah pada diameter 60 sentimeter atau 24 inci. Ketebalan dinding pipa terlihat relatif tipis dibanding diameter keseluruhan, karakter yang umum ditemukan pada pipa HDPE atau beton berukuran besar.
Debit aliran limbah tampak mengisi sekitar 60 hingga 80 persen penampang pipa. Lengkungan pipa di bagian ujung juga menyerupai model elbow yang lazim digunakan pada kelas ukuran 20 hingga 24 inci.
Direktur Posko Ijo, Rulli Mustika Adya, yang ikut dalam ronda sungai mengatakan kondisi ini memperlihatkan lemahnya pengawasan terhadap aktivitas industri di kawasan DAS Brantas. Menurut dia, sungai tidak semestinya menjadi tempat akhir pembuangan limbah tanpa pengawasan ketat dan pemantauan terbuka.
“Bantaran DAS Brantas semakin dipenuhi aktivitas industri, tetapi pengawasan terhadap kualitas buangan masih lemah. Ketika warga mulai mengenali bau dan perubahan warna air, itu tanda ada masalah yang tidak bisa dianggap normal,” kata Rulli.
Peneliti Ecoton Sofi Azilan Aini membawa sampel air dalam jirigen yang diambil dari outlet fall limbah PT Mega Surya Eratama di Dusun Jasem, Desa Tanjangrono, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Selasa, 9 Juni 2026. Sampel tersebut dikumpulkan saat ronda sungai di DAS Brantas untuk mendokumentasikan kondisi aliran limbah yang mengarah ke Kali Porong. | Foto: Fully Syafi’i
Tim kemudian melakukan pengukuran kualitas air menggunakan Water Quality Meter di tepi Kali Porong. Hasil pengukuran menunjukkan angka 7.58 yang mengarah pada parameter pH air, sementara angka 31.5 derajat celsius menunjukkan suhu air di sekitar titik pembuangan limbah.
Pada bagian lain layar alat, muncul angka 2.8 yang diduga menunjukkan parameter dissolved oxygen (DO) dalam satuan miligram per liter atau ppm. Sementara angka 74.3 ditampilkan pada indikator total dissolved solids (TDS) dalam satuan ppm.
Pengukuran dilakukan langsung di badan sungai untuk melihat kondisi air di sekitar outlet pembuangan industri. Nilai suhu 31,5 derajat celsius tergolong tinggi untuk karakter umum sungai alami tropis, terutama pada aliran yang menerima limpasan panas aktivitas industri atau minim vegetasi peneduh di bantaran.
Sementara nilai dissolved oxygen sebesar 2.8 menunjukkan kadar oksigen terlarut yang relatif rendah bagi kehidupan organisme air. Penurunan kadar oksigen umumnya berkaitan dengan tingginya beban bahan organik maupun proses penguraian limbah di badan sungai.
Kali Porong sendiri merupakan salah satu cabang utama Sungai Brantas yang mengalir menuju pesisir timur Jawa Timur. Sungai ini memiliki fungsi penting sebagai saluran pengendali air, pengairan pertanian, hingga menopang aktivitas masyarakat di Mojokerto, Sidoarjo, dan wilayah sekitarnya.
Dalam dua dekade terakhir, bantaran Kali Porong berkembang menjadi koridor industri dengan aktivitas manufaktur yang padat. Pada saat bersamaan, sungai tersebut juga menanggung tekanan ekologis akibat limbah domestik, sedimentasi, dan pembuangan industri yang terus meningkat.
Aliran air keluar dari pipa pembuangan yang bermuara ke Kali Porong di kawasan industri Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Selasa (9/6/2026). Tim ronda sungai menemukan aliran buangan disertai bau menyengat serta endapan residu di sekitar outlet dan melakukan pengukuran kualitas air untuk mendokumentasikan kondisi sungai di kawasan hilir DAS Brantas. | Foto: Fully Syafi’i
#Bau Menyengat dan Dugaan Kandungan Limbah
Bau menyengat terus muncul selama tim berada di sekitar saluran pembuangan. Aroma tersebut menyerupai campuran pulp kertas, bahan kimia, dan material organik yang membusuk.
Peneliti Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton), Sofi Azilan Aini, menjelaskan aroma semacam itu umumnya berkaitan dengan senyawa tertentu yang kerap muncul pada limbah industri berbasis pulp dan kertas. Namun, ia menegaskan identifikasi pasti tetap membutuhkan pengujian laboratorium.
“Bau seperti ini biasanya berkaitan dengan senyawa sulfur volatil atau proses penguraian organik dalam kondisi minim oksigen. Di industri pulp dan kertas, aroma tajam sering muncul dari proses kimia tertentu maupun endapan residu limbah,” ujar Sofi.
Menurut dia, salah satu senyawa yang kerap memunculkan bau menyengat ialah hidrogen sulfida atau H₂S. Senyawa tersebut menghasilkan aroma menyerupai telur busuk dan biasanya muncul dari proses pembusukan bahan organik dalam kondisi anaerob.
Selain itu, terdapat kemungkinan keberadaan metil merkaptan dan senyawa sulfur volatil lain yang identik dengan proses industri pulp dan kertas. Bau menusuk juga dapat berasal dari amonia yang muncul dalam proses pengolahan limbah cair.
Sofi mengatakan beberapa industri menggunakan proses bleaching atau pemutihan berbasis bahan kimia tertentu. Dalam kondisi tertentu, proses tersebut dapat menghasilkan aroma klorin yang cukup tajam di sekitar saluran limbah.
Ia juga menyoroti kemungkinan adanya endapan campuran serat kayu, lumpur, dan residu pulp pada saluran pembuangan. Material organik yang mengendap dalam waktu lama dapat menghasilkan aroma anyir dan busuk ketika terurai.
Menurut Sofi, keberadaan bau kuat di sekitar outlet limbah perlu menjadi perhatian serius karena menunjukkan adanya akumulasi bahan organik maupun senyawa kimia tertentu di badan air. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas ekologis sungai.