
Riset mahasiswa Unesa menemukan perubahan plankton hingga penurunan oksigen dari kawasan pertanian menuju perkotaan. Penelitian mahasiswa ini dipresentasikan dalam “Seminar Hasil Penelitian Environmental Insights 2026” menemukan penurunan kualitas air Kali Surabaya terjadi secara konsisten dari wilayah hulu menuju hilir. Penurunan itu tercermin melalui rendahnya kadar oksigen terlarut, meningkatnya kandungan nutrien, dan berubahnya struktur komunitas plankton di sepanjang aliran sungai.
Forum ilmiah yang mempertemukan mahasiswa dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Universitas Brawijaya (UB), dan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) tersebut menjadi ruang pembacaan baru atas kondisi ekologis sungai yang selama ini menjadi sumber air baku utama Kota Surabaya.
Menurut Wahyu Baitullah, mahasiswa S1 Biologi UNESA di Open Spice Gedung Insprirasi, Ecological Conservation and Wetlands (Ecoton), penelitiannya melalui sembilan titik sampling yang dibagi ke dalam wilayah hulu, tengah, dan hilir Kali Surabaya.
Wilayah hulu berada di kawasan pertanian Mlirip, Mojokerto. Wilayah tengah berada di kawasan industri Driyorejo, Gresik, sedangkan wilayah hilir mencakup kawasan padat permukiman Jagir dan Wonokromo, Surabaya.
Data penelitian menunjukkan kualitas ekologis sungai mengalami perubahan signifikan sepanjang aliran. Pada segmen tengah dan hilir, kadar dissolved oxygen (DO) atau oksigen terlarut turun drastis hingga berada di bawah baku mutu nasional.
“Penurunan nilai DO dari hulu ke hilir menunjukkan adanya degradasi kualitas air yang dipengaruhi aktivitas antropogenik di sepanjang Kali Surabaya,” kata Wahyu.
Di wilayah hulu, lanjut Wahyu, kadar DO tercatat masih tinggi, yakni berkisar 10,7–12,4 mg/L. Namun pada segmen tengah, nilainya turun menjadi 1,7–2,4 mg/L dan terus rendah di hilir pada kisaran 1,6–2,0 mg/L.
“Padahal, berdasarkan peraturan yang ada, yaitu PP Nomor 22 Tahun 2021 kelas II, kadar DO minimal yang diperbolehkan ialah 4 mg/L. Rendahnya oksigen terlarut ini, bisa dibilang menandakan tingginya tekanan pencemar organik di perairan Kali Surabaya, “ ucap Wahyu.
Dalam penelitian Wahyu menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan pada 1 April 2026 dan analisis data berlangsung selama satu bulan.
Selain DO, Wahyu juga mengukur parameter suhu, pH, total dissolved solids (TDS), fosfat, amonia, dan klorin bebas.
“Hasil yang saya peroleh dalam pengukuran menunjukkan suhu dan TDS. Masih berada dalam ambang baku mutu. Namun parameter pH pada wilayah hulu dan DO di wilayah tengah hingga hilir tidak memenuhi standar kualitas air, “ jelas Wahyu.
Nilai pH di wilayah hulu tercatat antara 5,11–5,46 atau berada di bawah rentang ideal 6–9, kata Wahyu. “Kondisi itu menunjukkan karakter air yang relatif asam, ‘tandasnya.
Sementara itu, dalam uraiannya Wahyu menyebut, TDS meningkat tajam di kawasan tengah yang didominasi aktivitas industri. Pada salah satu titik di Driyorejo, nilai TDS mencapai 422 ppm, hampir tiga kali lebih tinggi dibanding wilayah hulu.
Meski belum melampaui ambang batas nasional, dalam penelitian itu. Wahyu menyebutkan, peningkatan TDS menunjukkan bertambahnya material terlarut di badan air. Material tersebut dapat berasal dari limbah cair industri, residu domestik, maupun limpasan aktivitas pertanian.
Penelitian Wahyu juga menemukan peningkatan konsentrasi nutrien dari segmen tengah hingga hilir Kali Surabaya. Fosfat menjadi parameter dengan konsentrasi tertinggi dibanding nutrien lainnya.
“Kadar fosfat tercatat berada pada rentang 0,3–1,8 ppm. Konsentrasi tertinggi ditemukan pada Stasiun 2 Titik 3 dan Stasiun 3 Titik 1,” sebut Wahyu.
Penelitian menduga tingginya fosfat berasal dari limbah domestik, penggunaan deterjen rumah tangga, dan limpasan pertanian. Ketiga sumber itu menjadi beban pencemar yang terus masuk ke badan sungai.
Selain fosfat, kandungan amonia ditemukan pada kisaran 0,07–0,15 ppm. Sementara klorin bebas berada pada rentang 0,01–0,23 ppm.
Keberadaan amonia menunjukkan tingginya proses dekomposisi bahan organik di perairan. Sedangkan klorin bebas mengindikasikan pengaruh limbah domestik dan aktivitas manusia di sekitar sungai.
Secara umum, peningkatan nutrien memperlihatkan kuatnya tekanan antropogenik terhadap Kali Surabaya. Aktivitas manusia menjadi faktor dominan yang membentuk perubahan kualitas perairan dari hulu hingga hilir.
“Peningkatan nutrien di segmen tengah hingga hilir menunjukkan sungai menerima tekanan pencemaran yang terus bertambah dari aktivitas domestik, industri, maupun pertanian,” kata Wahyu.
Dalam forum seminar, sejumlah peserta menyoroti posisi Kali Surabaya yang selama ini menanggung limpasan aktivitas ekonomi kawasan metropolitan Jawa Timur. Sungai tersebut menerima aliran dari kawasan pertanian, industri, hingga permukiman padat.
Kondisi itu membuat pencemaran sungai berlangsung secara kompleks. Sumber pencemar tidak berasal dari satu sektor tunggal.
Di kawasan hulu, limpasan pertanian membawa residu pupuk dan bahan organik. Sementara di segmen tengah, kawasan industri meningkatkan risiko masuknya limbah cair ke badan sungai.
Memasuki wilayah hilir, tekanan pencemaran bertambah melalui limbah domestik rumah tangga. Padatnya permukiman di sekitar sungai memperbesar potensi pembuangan limbah tanpa pengolahan.
“Pola penurunan kualitas air dari hulu ke hilir memperlihatkan bahwa beban pencemaran di Kali Surabaya bersifat akumulatif dan dipengaruhi aktivitas manusia di sepanjang aliran sungai,” ujar Wahyu.
Kombinasi berbagai sumber pencemar tersebut menciptakan akumulasi beban ekologis di sepanjang aliran Kali Surabaya. Dampaknya terlihat jelas melalui penurunan kadar oksigen dan meningkatnya kandungan nutrien.
Secara ekologis, kondisi tersebut berisiko memicu eutrofikasi atau ledakan pertumbuhan organisme tertentu akibat tingginya nutrien di perairan. Dalam jangka panjang, situasi itu dapat memperburuk kualitas air dan mengganggu keseimbangan ekosistem.