
JOMBANG — Forum permusyawaratan tertinggi Nahdlatul Ulama, Muktamar Ke-35 NU, resmi ditutup pada Senin (31/8/2026) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, setelah berlangsung selama lima hari sejak 27 Agustus. Acara yang mengangkat tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa” ini dibuka sekaligus ditutup langsung oleh Presiden Prabowo Subianto, menandakan kedekatan hubungan antara pemerintah dan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Hasil paling ditunggu dari muktamar ini adalah penetapan dua figur kunci kepemimpinan PBNU untuk masa khidmat 2026-2031. KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya menjabat Rais Aam PBNU untuk periode keduanya, setelah sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) menyepakatinya secara mufakat pada Minggu (30/8) malam. Sementara posisi Ketua Umum Tanfidziyah PBNU jatuh kepada KH Abdul Hakim Mahfudz, yang akrab disapa Gus Kikin, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng sekaligus cicit pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari.
Mekanisme Baru Pemilihan Ketua Umum
Salah satu keputusan paling bersejarah dalam muktamar kali ini adalah perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU. Dalam Sidang Pleno III, sebanyak 73 persen dari 552 peserta berhak suara atau 401 suara menyepakati penghapusan sistem pemilihan langsung one man one vote yang selama ini dipakai, dan menggantinya dengan mekanisme musyawarah AHWA bersama persetujuan Rais Aam terpilih.
Di bawah mekanisme baru ini, setiap wilayah dan cabang pemilik hak suara mengusulkan minimal satu dan maksimal lima nama calon. Lima nama dengan perolehan suara aspirasi terbanyak kemudian diajukan kepada Rais Aam terpilih untuk mendapat persetujuan tertulis, sebelum akhirnya dimusyawarahkan oleh sembilan anggota AHWA untuk menentukan Ketua Umum definitif. Dalam tahap penjaringan awal, Gus Kikin unggul jauh dengan meraih 472 dari 552 suara, disusul KH Zulfa Mustofa (262 suara), KH Abdussalam Sochib (261 suara), KH Yahya Cholil Staquf (258 suara) yang merupakan Ketua Umum PBNU petahana dan KH Abdul Ghofar Rozin (155 suara).
Ketua Panitia Organizing Committee Muktamar, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), mengapresiasi sikap kenegarawanan empat kandidat lain yang tetap hadir dalam acara penutupan meski tidak terpilih, sebagai bukti kader-kader NU mampu berbesar hati dalam perbedaan pandangan.
Pidato Penutupan dan Sentilan Ekonomi
Dalam pidato penutupannya, Presiden Prabowo memuji jalannya muktamar yang berlangsung guyub dan rukun meski diwarnai persaingan calon yang ketat. Presiden juga memanfaatkan momentum ini untuk memaparkan capaian efisiensi anggaran pemerintahannya, termasuk klaim penutupan 290 BUMN yang dinilai tidak produktif dan merugi negara, yang disebutnya berhasil menghemat anggaran hingga Rp50 triliun. Sementara itu, Rais Aam Miftachul Akhyar dalam pidatonya berpesan agar pemerintah senantiasa memperhatikan program-program NU yang menurutnya berorientasi pada kemaslahatan umat secara luas.
Meski demikian, perhelatan muktamar kali ini tak lepas dari sorotan kritis. Sejumlah kalangan nahdliyin, termasuk tokoh muda NU, sempat menyuarakan kekecewaan atas kebijakan PBNU menerima konsesi tambang dari pemerintah, isu yang mengemuka jelang muktamar dan dinilai berpotensi mencederai independensi organisasi. Desakan agar kepemimpinan baru PBNU lebih independen dan berintegritas pun turut menjadi salah satu warna dinamika menjelang penetapan hasil.