
Kisah pilu menimpa seorang remaja perempuan di Kabupaten Sampang, Madura. Di usianya yang masih 15 tahun, ia menjadi korban pemerkosaan oleh 27 pria. Anggota Komisi E DPRD Jatim Suli Daim menyebut kasus ini sebagai kejahatan besar yang terjadi di wilayah Madura. Politisi dari partai PAN ini mengaku prihatin atas kasus yang terjadi di Sampang tersebut. Apalagi, korbannya masih anak-anak dan pelakunya mencapai puluhan.
“Semua pihak mendukung penuh kepolisian untuk menuntaskan kasus tersebut. Terlebih, proses penangkapan terhadap pelaku saat ini terus berlangsung dan masih ada belasan pelaku yang buron,” kata Suli Daim
Sementara itu Wakil Gubernur Jatim Emil Elistianto Dardak mengatakan pihaknya bersama Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa telah melakukan koordinasi dan aksi respons perlindungan terhadap korban pasca-insiden, melalui pertemuan dengan berbagai pihak dan dinas terkait.
“Kami sudah melakukan pertemuan dengan pihak termasuk Kementrian Perempuan dan Dinas Pemberdayaan Perempuan Jatim, untuk koordinasi penanganan kasus dan perlindungan korban. Proses penegakan hukum di lapangan harus dilakukan dengan penangkapan pelaku. Sebagian besar sudah ditangkap dan sebagian masih dalam pencarian. Penegakan akan dilanjutkan,” jelas Emil.
Pemprov Jatim juga melakukan kontak berkelanjutan dengan keluarga korban dan langkah perlindungan. Salah satunya setuju untuk membatasi pernyataan publik sementara, agar tidak mengganggu kepentingan mental korban dan keluarga.
Saat ini proses penyidikan kasus yang menggemparkan nasional ini masih dilakukan Polres Sampang bersama Polda Jatim. Kekerasan seksual atau rudapaksa massal dengan korban seorang remaja perempuan berusia 15 tahun, dengan pelaku 27 orang. Pihak kepolisian kini mengungkap secara gamblang awal mula terbongkarnya aksi biadab yang sempat tersembunyi selama berbulan-bulan tersebut.
Perkara ini tidak terungkap secara instan, melainkan bermula dari kecurigaan mendalam pihak keluarga. Orang tua korban merasa ada yang tidak beres lantaran mendapati anak perempuan mereka berulang kali pulang ke rumah pada larut malam, bahkan hingga menjelang pagi hari.
Merasa cemas dan curiga, pihak keluarga akhirnya memutuskan untuk mencecar korban dengan sejumlah pertanyaan secara interpersonal. Di sanalah korban akhirnya menangis dan mengakui petaka yang menimpanya.
Mendengar pengakuan yang begitu menyakitkan, pihak keluarga tidak tinggal diam dan menolak keras tindakan keji yang menimpa anak mereka. Mereka mendatangi Mapolres Sampang untuk membuat laporan resmi dan meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas seluruh pelaku yang terlibat dalam lingkaran kekerasan seksual massal tersebut.
Laporan resmi keluarga menjadi titik balik bagi kepolisian untuk bergerak melakukan penangkapan secara bertahap kedapa pelaku. Sedangkan kepada korban, polisi memberikan penguatan psikologis sekaligus mendampingi secara melekat selama proses interogasi dan penyidikan berlangsung.
Korban yang awalnya ketakutan akibat ancaman intimidasi dari kelompok pelaku, perlahan-lahan mulai merasa aman dan berani mengungkapkan detail peristiwa kelam yang dialaminya kepada tim penyidik. Dari sinilah angka fantastis 27 pelaku akhirnya berhasil diidentifikasi. (yes)