
SURABAYA — Proyek ambisius Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam merevitalisasi kawasan Kota Lama kini membuahkan hasil manis. Hanya dalam kurun waktu akhir pekan pertama di bulan Juni 2026, Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya mencatat rekor kunjungan fantastis, di mana lebih dari 35.000 wisatawan lokal hingga mancanegara memadati kawasan bersejarah tersebut.
Kawasan Kota Lama Surabaya yang mencakup Zona Eropa dan Pecinan ini memang tengah bersolek pasca-diresmikan secara bertahap sejak awal Mei 2026. Penataan ulang ruang publik ini sukses menyulap atmosfer pusat kota lama menjadi destinasi pariwisata sejarah unggulan bergaya estetik (heritage tourism).
Langkah penataan estetika kota yang dilakukan Pemkot Surabaya terbilang menyeluruh. Otoritas melakukan pembersihan visual kota dengan merapikan seluruh kabel utilitas ke bawah tanah (ducting), memperlebar jalur pedestrian ramah pejalan kaki, serta memasang pencahayaan artistik (architectural lighting) yang menyoroti fasad megah gedung-gedung cagar budaya era kolonial.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa proyek revitalisasi ini tidak boleh hanya dilihat sebagai upaya pemugaran fisik bangunan tua. Lebih dari itu, kawasan ini didesain sebagai ekosistem baru pertumbuhan ekonomi kerakyatan.
“Restorasi Kota Lama ini adalah komitmen kami untuk merawat memori kolektif dan melestarikan cagar budaya Surabaya. Namun, tujuan paralelnya adalah menghidupkan kembali roda ekonomi kreatif. Kita integrasikan sejarah dengan ruang usaha bagi pelaku lokal, mulai dari kedai kopi estetik hingga perajin suvenir, sehingga wisatawan bisa menikmati sensasi kota tua yang nyaman dan kompetitif,” ujar Eri Cahyadi.
Katalisator Ekonomi Kreatif Lokal
Intervensi infrastruktur yang rapi terbukti mengubah pola kunjungan wisatawan. Kehadiran puluhan pelaku ekonomi kreatif dan kedai kopi lokal yang ditata selaras dengan arsitektur kolonial memberikan daya tarik visual yang kuat, bahkan kerap disejajarkan dengan pengelolaan kota-kota tua di Eropa.
Bagi Kota Surabaya, kesuksesan pembukaan Zona Eropa dan Pecinan ini menjadi angin segar bagi sektor pariwisata daerah. Pemkot Surabaya memproyeksikan, dengan pengelolaan pariwisata berbasis kawasan (district-based tourism) yang konsisten, Kota Lama Surabaya tidak hanya akan menjadi ikon baru kebanggaan warga kota, tetapi juga motor baru penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor ekonomi kreatif dan pariwisata berkelanjutan.