
Unjuk rasa di Depan Gedung Negara Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, Surabaya kembali terjadi. Kali ini dilakukan oleh ratusan massa yang tergabung dalam aliansi Rakyat Surabaya Menggugat, Senin 22 /6/2026. Massa aksi berkumpul dari kawasan Bambu Runcing Surabaya sebelum menuju ke Gedung Negara Grahadi. Kelompok Sipil Surabaya ini terdiri dari elemen masyarakat, mahasiswa, LSM dan ormas. Rombongan berjalan dengan tertib dengan mengambil lawan arus di Jalan Panglima Sudirman. Tepat di perempatan air mancur, massa sempat berhenti untuk melakukan orasi secara bergantian. kemudian massa mulai berjalan lagi dan memadati Jalan Gubernur Suryo sekitar pukul 15.30.
Mereka kemudian bergiliran berorasi sambil membawa sejumlah poster bertuliskan keresahan masing-masing.
Miftakhur Rohmah, Juru Bicara Aksi Surabaya Menggugat mengatakan, tuntutannya menurunkan Prabowo-Gibran disebut bukan tanpa alasan.
“Kami menilai perdebatan isu seperti MBG dan lainnya sudah tidak efektif, karena tidak menyentuh akar persoalan yang dianggap penting,” jelas Miftakhur Rohmah.
Sementara itu dalam orasinya, beberapa tokoh aliansi menyoroti meluasnya pengaruh oligarki yang berdampak pada hilangnya ruang hidup rakyat sipil. Bahwa produk hukum yang lahir di era pemerintahan saat ini hanya dibuat demi melanggengkan kekuasaan. Selain itu, tindakan represif aparat terhadap gerakan-gerakan sipil yang turun ke jalan sangat melanggar HAM.
Berbeda dengan aksi-aksi sebelumnya yang fokus pada penolakan kebijakan sektoral seperti makan bergizi gratis (MBG), demonstrasi kali ini langsung menyasar pada perubahan struktural di tingkat pusat. Massa mendesak instrumen negara seperti Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) untuk segera mengambil tindakan konkret.
Aksi yang mengawali gerakan konsolidasi masyarakat sipil di Surabaya ini menyerukan kepada seluruh elemen rakyat di Indonesia untuk ikut bersuara melawan dominasi kekuasaan di lini eksekutif, judisial, maupun legislatif yang dinilai sudah berada di bawah kendali penuh pemerintahan. (pul)