
Ancaman sampah laut dan mikroplastik masih menjadi pekerjaan rumah besar Indonesia . menjawab persoalan ini, peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya mengembangkan kapal pembersih sampah tanpa awak yang mampu beroperasi di wilayah sungai, pesisir pantai hingga laut terbuka.
Uji coba inovasi kapal pembersih sampah tanpa awak ini dikembangkan oleh tim peneliti Departemen Teknik Perkapalan Fakultas Teknologi Kelautan ITS Surabaya , Kamis (11/6) sore. Kapal ini dirancang untuk membantu mengatasi penumpukan sampah di perairan sungai, pesisir yang selama ini menjadi ancaman serius bagi ekosistem laut dan keberlangsungan biota maritim .
Inovasi menerapkan teknologi sederhana namun tepat guna dapat memberikan dampak besar bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat sungai dan pesisir.
Kapal mengusung konsep desain sederhana agar mudah dioperasikan dan dirawat oleh warga. Menggunakan lambung ganda untuk menjaga stabilitas, serta dilengkapi sirip pengarah yang mengumpulkan sampah ke dalam keranjang penampung saat kapal bergerak.
Sistem kendali menggunakan remote control dengan jangkauan hingga satu kilometer . metode ini dinilai lebih efisien karena tidak memerlukan sensor berbiaya tinggi dan dapat dioperasikan dengan mudah oleh masyarakat setempat .
“Para inovator di klaster maritim mengembangkan kapal yang dirancang khusus untuk mengambil sampah. Saat ini sampah sudah menjadi masalah besar, tidak hanya di darat tetapi juga di laut termasuk sampah mikroplastik dan sejenisnya. Oleh karena itu, diciptakan kapal dengan fungsi utama membersihkan sampah di perairan, kata Prof Bambang Pramujati rektor ITS.
Kapal berbentuk katamaran, memiliki dua lambung dengan bagian tengah yang dirancang untuk menangkap sampah. Mekanismenya sangat sederhana, kapal mendekati tumpukan sampah, lalu sampah akan masuk dengan sendirinya ke bagian tengah. Di bawahnya tersedia wadah penampung. Jika sudah penuh, wadah tersebut diangkat ke atas agar sampah bisa dibersihkan.
“Saat ini sudah ada tiga unit kapal skala kecil, dan dua unit kapal berukuran lebih besar telah diserahkan kepada Pertamina. Dua kapal ini dipesan Pertamina untuk digunakan di wilayah kute dan Ibu Kota Nusantara (IKN) Kalimantan. Ke depannya, Pertamina juga meminta pembuatan kapal serupa lagi untuk labuan bajo dan lokasi lain, yang nantinya akan diproduksi di klaster maritim ITS. Teknologinya memang sederhana, namun diharapkan memberikan manfaat yang besar, sesuai semangat kampus untuk menghasilkan karya yang berdampak nyata,” jelas Prof Bambang Pramujati
Pengembangan kapal ini terus dilakukan melalui dukungan program hilirisasi Dikti dan LPDP. Hingga kini , tim ITS telah menghasilkan dua unit baru berukuran delapan meter yang telah diuji coba di pesisir Bali. satu buah kapal harganya cukup murah sekitar Rp 590 juta.
Prof Syarif Wijaya dari Tim Peneliti ITS mengatakan, kapal buatan untuk Pertamina memiliki ukuran dua kali lipat lebih panjang dibandingkan model paling sederhana. harga satu unit Rp 590 juta. Saat ini sudah ada kontrak untuk pembuatan 2 kapal, dan menyusul pesanan 3 kapal lagi untuk Labuan Bajo, Palu, Dan Cirebon. “Nanti pemilahan sampah dilakukan setelah diangkat ke darat. Selain kapal, tim juga menyediakan alat pencacah plastik. Sampah plastik yang terkumpul akan dipotong menjadi butiran kecil (chips) agar siap diolah lebih lanjut,” jelas Prof Syarif Wijaya.
Implementasi kapal dilakukan melalui kerja sama Nasdec ITS dan PT Pertamina Persero di kawasan wisata Bali serta Kalimantan. Ke depan, sistem ini akan dikembangkan dengan teknologi kecerdasan buatan berbasis internet of things untuk mendeteksi titik penumpukan sampah secara otomatis .
Melalui inovasi ini , ITS berharap mampu mendorong kolaborasi antara akademisi , industri dan masyarakat dalam menjaga kebersihan laut Indonesia. Sekaligus menjadi langkah nyata mendukung pembangunan berkelanjutan dan pelestarian ekosistem maritim nasional. (yes)