
SURABAYA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat kesiapsiagaan Jawa Timur dalam menghadapi ancaman kekeringan dan cuaca ekstrem menjelang musim kemarau 2026. Langkah ini diwujudkan melalui penyediaan dan pemaparan data iklim presisi dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Dampak Hidrometeorologi yang digelar oleh Pemprov Jatim di Dyandra Convention Center, Surabaya.
Hadir memberikan dukungan teknis secara langsung, Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, Cahyo Nugroho, yang hadir mewakili Kepala BMKG Pusat. Kehadirannya menegaskan komitmen penuh institusi dalam mengawal pasokan data cuaca demi keselamatan masyarakat Jawa Timur.
Dalam paparan utamanya, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, Taufiq Hermawan, menegaskan bahwa akurasi data iklim merupakan hulu dari seluruh strategi perlindungan sumber daya air dan sektor pertanian di Jawa Timur.
“Pemanfaatan informasi prakiraan iklim yang presisi sangat esensial sebagai basis langkah antisipasi dini terhadap ancaman kekeringan. Melalui sinergitas lintas sektor yang berbasis data ini, kita berharap dapat meminimalisasi risiko kerugian akibat perubahan cuaca ekstrem yang diprediksi terjadi sepanjang tahun ini,” jelas Taufiq Hermawan.
Kolaborasi Strategis Lintas Sektoral
Dukungan data saintifik dari BMKG Juanda ini menjadi fondasi penting bagi perumusan strategi taktis yang melibatkan kementerian dan aparat keamanan di lapangan. Beberapa poin kolaborasi yang dibedah dalam rakor tersebut meliputi:
- Kementerian Kehutanan: Fokus pada strategi pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
- Kementerian Pertanian: Fokus pada mitigasi ketahanan pangan di tengah ancaman kekeringan lahan.
- BNPB, Polda Jatim, & Kodam V/Brawijaya: Sinergi dukungan operasional, pengamanan, serta kedaruratan di lapangan.
Sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi data dan pemikiran saintifik yang dibagikan, Gubernur Jawa Timur menyerahkan cinderamata “Surya Majapahit” secara langsung kepada para narasumber, termasuk Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo.
Rangkaian rakor tersebut ditutup dengan penandatanganan kesepakatan bersama lintas instansi. Rumusan kesepakatan ini akan menjadi landasan gerak cepat, terpadu, dan taktis bagi seluruh elemen di Jawa Timur dalam menghadapi tantangan hidrometeorologi sepanjang Musim Kemarau 2026.