
Penelitian terbaru memetakan sampah plastik sudah menjadi problem hingga tingkat kecamatan. Di Indonesia menghasilkan sekitar 9,21 juta ton sampah plastik setiap tahun. Namun persoalan terbesar bukan semata pada besarnya volume tersebut, melainkan bagaimana sebagian besar di antaranya masih dikelola secara tidak memadai dan akhirnya mencemari lingkungan.
Temuan itu diungkap dalam penelitian “Mapping Mismanaged Plastic Waste in Indonesia: Subdistrict-level Analysis Through Material Flow from Sources to the Environment” yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports dengan versi resmi publikasi pada 24 April 2026.
Berbeda dengan kajian sebelumnya yang menggunakan pendekatan nasional atau tingkat kabupaten, penelitian ini memetakan aliran sampah plastik hingga level kecamatan, sehingga memperlihatkan lokasi-lokasi yang menjadi titik rawan kebocoran.
Para peneliti menyebut analisis pada skala nasional sering kali menyembunyikan variasi kondisi sesungguhnya. Dua wilayah dengan jumlah penduduk yang sama belum tentu memiliki tingkat kebocoran sampah yang identik. Karena dipengaruhi layanan pengangkutan, fasilitas pengolahan, kondisi sosial, hingga perilaku masyarakat.
“Analisis tingkat kecamatan memungkinkan identifikasi hotspot salah kelola sampah plastik yang sebelumnya tidak terlihat pada data agregat,” tulis para peneliti dalam publikasi tersebut.
Penelitian yang dipimpin Attar Hikmahtiar Ramadan dari Program Doktor Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Emenda Sembiring dari Kelompok Riset Pengelolaan Udara dan Limbah, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB, menggabungkan berbagai sumber data.
Dalam analisis mereka memanfaatkan informasi fasilitas pengelolaan sampah, data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), data sensus penduduk, serta pendekatan Material Flow Analysis (MFA) dan Geographic Information Systems (GIS) untuk memetakan aliran sampah plastik dari sumbernya hingga berpotensi bocor ke lingkungan.
Melalui pendekatan tersebut, peneliti tidak hanya menghitung berapa banyak sampah plastik dihasilkan, tetapi juga melacak perjalanan material sejak dibuang oleh masyarakat hingga berakhir di tempat pengolahan, dibakar, dibuang sembarangan, atau masuk ke sungai.
Pendekatan ini menjadi penting, karena kebijakan pengelolaan sampah selama ini banyak disusun berdasarkan angka rata-rata nasional. Padahal kondisi setiap daerah memiliki karakteristik berbeda.
Di sejumlah wilayah perkotaan, persoalan utama adalah kapasitas fasilitas yang terbatas dibanding jumlah sampah yang terus meningkat. Sebaliknya di wilayah pedesaan, tantangan justru terletak pada minimnya layanan pengumpulan sehingga masyarakat memilih membakar atau membuang sampah di sekitar tempat tinggal.
Hasil penelitian menunjukkan sekitar 25 ribu ton sampah plastik dihasilkan setiap hari di Indonesia. Dalam satu tahun jumlahnya mencapai sekitar 9,21 juta ton dengan tingkat ketidakpastian sekitar 1,52 juta ton.
Besarnya produksi tersebut sejalan dengan posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan konsumsi plastik yang terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Pertumbuhan penduduk, urbanisasi, perubahan pola konsumsi, dan berkembangnya industri makanan serta perdagangan daring ikut memperbesar penggunaan plastik sekali pakai.
Namun penelitian ini mengingatkan bahwa peningkatan produksi sampah tidak otomatis diikuti peningkatan kapasitas pengelolaan.
Ketimpangan itulah yang kemudian melahirkan fenomena mismanaged plastic waste, yaitu sampah plastik yang tidak tertangani melalui sistem pengelolaan yang memadai sehingga berpotensi mencemari lingkungan.
Dalam konteks penelitian ini, salah kelola tidak hanya berarti sampah yang dibuang ke sungai atau laut. Sampah yang dibakar secara terbuka atau dibuang di lahan tanpa pengamanan juga termasuk kategori salah kelola karena menimbulkan dampak lingkungan dan kesehatan.
Peneliti menilai pemetaan hingga tingkat kecamatan dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran. Dengan mengetahui lokasi kebocoran terbesar, pemerintah dapat menentukan prioritas investasi infrastruktur maupun program perubahan perilaku masyarakat.
Penelitian menggunakan faktor 0,8 untuk merepresentasikan wilayah pedesaan yang dipengaruhi kawasan perkotaan atau industri, sehingga model lebih mencerminkan pola konsumsi dan timbulan sampah yang beragam serta menghindari bias terhadap karakter pedesaan terpencil. | Dok. Peneliti
#Pembakaran Terbuka Masih Menjadi Jalur Terbesar Salah Kelola
Salah satu temuan paling mencolok dalam penelitian ini adalah dominannya praktik pembakaran terbuka.
Sekitar 5,15 juta ton sampah plastik setiap tahun diperkirakan berakhir melalui pembakaran atau penguburan terbuka. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan jumlah sampah yang langsung dibuang ke sungai atau ke lahan terbuka.
Dengan kata lain, sebagian besar sampah plastik yang tidak tertangani tidak selalu terlihat menumpuk di lingkungan karena terlebih dahulu dibakar oleh masyarakat.
Praktik ini banyak ditemukan di kawasan yang belum memiliki layanan pengumpulan sampah secara rutin. Ketika tidak tersedia sistem pengangkutan, pembakaran menjadi pilihan paling mudah dan murah.
Penelitian memperkirakan sekitar 45 persen sampah plastik di Indonesia mengalami pembakaran atau penguburan terbuka.
Wilayah pedesaan menyumbang bagian terbesar dari praktik tersebut. Sekitar 3,43 juta ton sampah plastik yang dibakar atau dikubur berasal dari kawasan rural.
Temuan ini menunjukkan persoalan pengelolaan sampah bukan hanya isu perkotaan. Justru banyak desa yang menghadapi keterbatasan infrastruktur sehingga pengelolaan dilakukan secara mandiri oleh masyarakat.
Selain pembakaran, penelitian juga memperkirakan sekitar 1,16 juta ton sampah plastik bocor langsung ke lingkungan.
Dari jumlah tersebut, sekitar 640 ribu ton diperkirakan masuk ke sungai dan saluran air, sedangkan sekitar 520 ribu ton dibuang secara ilegal ke lahan terbuka.
Sungai menjadi jalur penting perpindahan sampah plastik dari daratan menuju wilayah pesisir.
Namun para peneliti mengingatkan bahwa tidak seluruh sampah yang masuk sungai akhirnya mencapai laut. Sebagian tertahan di bantaran, terjebak di vegetasi, atau mengendap di dataran banjir.
Meski demikian, keberadaan sampah di sungai tetap menimbulkan dampak ekologis serius. (yes)